Coffelato De Chocholate

Coffelato De Chocholate  | Ceritanya di PHP-in nih… hehehehe. Kisah yang Sangat Menarik. Wajib Baca 

by: Novi Nurlatiffah

novinurlatiffah

Udara pagi mulai masuk kedalam sumsum tulangku, dingin di pagi itu membuatku malas untuk segera bangun melanjutkan aktifitas. Slepping bag ini kutarik lagi agar menutupi seluruh tubuhku, rasa hangat pelan-pelan mulai kurasakan. Tetapi tiba-tiba sebuah tarikan membuka slepping bagku, dengan masih kedinginan kucoba buka mataku. Ternyata temanku yang biasa ku panggil Jupleh ini dengan sengaja menarik slepping bagku. “Pleh, sampean itu gimana taa? Liat orang kedinginan gini ko malah ditarik slepping bagnya”, cerutuku dengan agak sebal. “La sampean itu yang gimana, orang katanya suruh bangunin, katanya pengen lihat sun sun sun apa toh itu, matahari terbit itu loh”, ungkap Jumpleh dengan gaya medoknya. Dengan sigap segera kulepas slepping bagku, kubenarkan jaketku dan dengan sedikit melirik keluar ternyata benar sinar mentari dengan malu malu mulai terlihat dari balik gunung yang menutupinya.

Sunrise pertama yang kulihat di puncak gunung. Luar biasa rasanya, tak mampu kuungkapkan dengan kata-kata. Hanya tatapan mata ini yang mampu untuk mengungkapkan segalanya. Segera kupeluk teman-temanku, keindahan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Nikmat yang sangat luar biasa, alam ciptaan Tuhan yang masih alami jauh dari kata campur tangan manusia.Mata ini hampir menangis tapi segera kuhapus airmata ini. Malu apabila ketahuan teman-temanku, pasti aku akan jadi bulan-bulanan mereka saat turun nanti. Ya, aku dan teman-temanku sedang berada di puncak gunung. Gunung Andong namanya, perjalanan menuju puncak sekitar 2 jam. Aku putuskan ikut mendaki karena tidak ada kegiatan lain, males sebenarnya tapi rasa penasaran yang tinggi membuatku nekat ikut juga.

Setelah puas melihat dan berselfie ria, segera kami menyiapkan makanan untuk sarapan. Jupleh bertugas menyiapkan air panas untuk membuat kopi, Nina menyiapkan mie untuk dimasak setelah selesai membuat kopi. Sementara aku dan Ade sibuk menghangatkan badan, disini memang aku dan Ade yang belum mempunyai pengalaman muncak sama sekali. Mungkin karena itu, Jupleh dan Nina agak memakluminya. Satu cangkir kopi susu siap kami nikmati, tidak seperti yang lain yang langsung meminum kopinya, seperti biasa kukeluarkan coklat batangan yang selalu aku bawa kemanapun. Kunikmati coklat itu dengan menyelupkan ujung dari coklatnya, teman-temanku sudah biasa melihat aku melakukannya. Jadi mereka hanya mampu tersenyum. “Di gunung atau enggak kok ya sama saja, coklat dicelupne kopi”, celoteh Jupleh. Kami tertawa gembira.

Perkataan Jupleh membuatku sedikit berfikir, kenapa aku tidak sadar dengan kebiasaan anehku ini. Seingatku, kebiasaan ini kumulai saat aku kenal dengan seorang laki-laki yang sampai sekarang masih dihatiku. Laki-laki itu bernama Riwi Dulianto, dan aku memanggilnya Iwid. Dia mengajarkan kepada diriku tentang semua yang tidak pernah kuketahui sebelumnya, hingga meninggalkan kenangan coklat ini kepadaku. Pertama kali kulakukan hal ini dengan dia saat kami jalan bersama di daerah puncak, namanya Selo, Kabupaten Semarang. Saat itu aku dan dia makan disebuah warung, dia memesankan aku sebuah kopi padahal yang kuminta adalah teh hangat.

Dua kopi terletak dimeja kami, saat akan kuminum kopiku, dia bilang jangan diminum dulu. Dengan sinis aku bilang,”kenapa lagi toh mas? Aku kan sudah haus”. Dengan tersenyum dia langsung pindah posisi duduk disampingku yang sebelumnya duduk di depanku. Aku hanya melihat dengan tatapan datar. Dia mengeluarkan sebatang coklat dan segera membukanya, lalu mencelupkan ujung coklat itu kedalam kopiku. Tidak terlalu lama langsung dia angkat dan tanpa kusadari dia menyodorkan batang coklat basah tersebut kemulutku, aku sempat kaget tetapi segera kugigit ujungnya. Aku biarkan batang coklat itu didalam mulutku, hingga terasa meleleh. Rasanya sungguh berbeda, tidak pernah kurasakan rasa coklat seenak ini.

Suasana dingin dan nikmatnya kopi dicampur dengan coklat menambah romantis suasana. Pemandangan puncak yang begitu indah walau sedikit tertutup kabut membuatku ingin berlama-lama disini. Menghabiskan waktu dengannya, walaupun waktu itu status kami masih sebatas teman. Aku tidak mengerti dengan dia kenapa sampai sekarang masih belum menjadikan aku sebagai pacarnya, sempat terbersit dipikiranku apakah dia tidak pernah mencintaiku? Apa dia hanya mengajakku bermain-main dan setelah aku suka dia akan mencampakkanku? Atau aku hanya dijadikan sebagai pelampiasannya saja, karena kutahu dia jarang sekali dekat dengan wanita. Tapi itu semua segera kubuang jauh-jauh pikiran bodohku, dilihat dari sifat dan sikapnya aku yakin dia bukan lelaki yang suka memainkan perasaan seorang wanita. Jadi takut jika sampai kehilangan dia.

Hal tersebut selalu kami lakukan setiap kami jalan bersama, coffelato de chocholate adalah sebutan yang kami berikan atas kebiasaan kami berdua. Aku juga sering melakukan kebiasaan itu saat merasa kesepian, sendirian atau saat sedang mengalami masalah. Saat coklat mulai meleleh didalam mulutku, seperti ada suntikan energi yang mampu membuat semua syarafku yang sebelumnya lemah, lesu maupun sedih menjadi semangat kembali. Seperti seseorang yang baru menemukan harapan atau mendapatkan impiannya setelah lama berjuang. Mulai saat itu juga dapat dipastikan didalam tasku pasti ada sebatang coklat.

Kebiasaan itu juga aku tularkan kepada keluargaku, tapi hanya ledekan yang aku dapatkan. “Memang keluarga yang tidak tahu bagaimana seni makan coklat”, gerutuku dalam sela-sela sore itu. Hampir setiap sore saat tidak ada kegiatan, aku akan duduk di taman belakang rumah menikmati indahnya bunga-bunga dengan segelas coffelato de chocholate. Suasana akan terasa semakin romantis saat tetes hujan ikut menemaniku. Sambil belajar ataupun menulis kuhabiskan waktuku ditempat ini. Saat sedihpun aku lebih sering berada disini dibanding harus bersembunyi dikamar atau menghabiskan waktu dengan temanku. Aku merasa tempat ini seperti sebuah tempat harapan yang akan memberikan aku sejuta ide saat berada disani, ditemani dengan coffelato de chocholate.

Sudah setahun lebih kulewati waktuku bersama dengan mas Iwid, semua tentangku, tentang hidupku, mas Iwid mengetahuinya. Tapi yang menjadi beban dikepalaku, kenapa sampai sekarang dia tidak menjadikan aku pacarnya? Aku sudah terlalu lama menunggu, berharap untuk menjadi seseorang yang spesial dihidupnya. Tetapi seperti menelan ludah, sampai sekarangpun dia tidak pernah memberikan tanda-tanda akan menembakku. Pernah kujujur kepadanya melalui sms bahwa aku sayang dan cinta kepadanya, tetapi dia hanya membalas dengan ucapan terima kasih. Sebal langsung memenuhi ruang hatiku. Mulai dari saat itu aku enggan bertanya ataupun menyinggung masalah perasaan.

Akhirnya bulan Maret tiba, bulan dimana aku mengetahui semua jawaban atas segala pertanyaanku selama ini kenapa mas Iwid tidak mau menembakku. Jawabannya adalah mas Iwid sudah mempunyai wanita yang mengisi hatinya selama ini. Mereka berdua terpisah oleh jarak karena wanita yang dicintainya itu harus pindah sekolah sambil menemani neneknya. Setelah lulus wanita itu kembali lagi kesini tinggal bersama orang tuanya. Hancur berkeping-keping hati ini mengetahui yang sebenarnya. Hampir setiap malam kurelakan mata ini menangis menerima semua kenyataan ini. Membayangkan segala kenangan indah yang pernak kami lalui. Aku sayang dia, tapi dengan tiba-tiba aku harus merelakannya untuk wanita lain. Sakit ini menusuk hingga kedalam dadaku.

Setelah satu bulan lebih aku berusaha berjuang hidup tanpanya, hampir frustasi rasanya. Tetapi dengan bantuan sahabat dan temanku akhirnya aku mampu bangkit kembali. Mengikhlaskan apa yang sudah terjadi, belajar menerima dan akhirnya aku mampu bangkit. Setelah kejadian itu, kami tetap sering bertemu tetapi ditambah dengan satu orang lagi. Tentu saja adalah pacarnya mas Iwid, mereka memang sudah berpacaran sejak kembali bertemu lagi. Kami tetap melakukan kebiasaan lama, menikmati coffelato de chocholate. Ternyata pacar mas Iwid juga sudah mengetahui kebiasaan ini.

Mulai dari itu kusuarakan untuk hidup baru, menjalani awal baru dengan semangat baru. Kulanjutkan kebiasaan baikku untuk tetap suka menulis, semuanya hampir kujadikan bahan tulisanku. Terkadang iseng kukirim tulisanku disuatu lomba online dan tidak disangka tulisanku menjadi pemenangnya. Hal itu tidak luput dari coffelato de chocholate yang selalu menemaniku disetiap waktu. Pemberi inspirasi di setiap aktivitasku, penenang hatiku dan tentunya mampu menghangatkan hariku.

“Novi, ayo cepat diminum kopinya. Dari tadi kok malah dilihatin terus to?”, teriak Jupleh yang ternyata dari tadi memperhatikan aku yang sedang melamun. Segera lamunanku buyar oleh teriakan Jupleh. Tak kusangka dipuncak gunung ini aku mampu melamunkan masa laluku yang begitu indah. Ingin segera aku pulang dan merenung di taman belakang rumahku, menuliskan segala kisahku ini, ditemani coffelato de chocholate. Dan sekitar pukul 09.00 WIB kami bersiap-siap dan segera turun kebawah karena terlihat cuaca sedikit mendung.

Cerita singkat yaa :
Novi Nurlatiffah lahir pada tanggal 05 November 1995 di Kabupaten Semarang. Sekarang sedang menempuh pendidikan di Universitas Airlangga Prodi Budidaya Perairan. Alamat rumah di Desa Gentan, RT 05/ RW 004 Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang. Blog pribadi Novinurlatiffah123.blogspot.com, akun FB. Novi Nurlatiffah, email Noviifah@yahoo.co.id, Twitter @Novinurlatiffah dan nomor telpon 086865135532.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *