1000 Pendaki Siap Bersih-Bersih Rinjani

4

5

Malu Dong Sama Bule-Bule. Lu Ngomong Loe Indoneisa. Loe Ngomong Lu Pendaki. Lu Ke Gunung Moto-Moto Pegang Bendera Merah Putih. Yang Lu Liatin Ke Orang-Orang Cuma gambar Bagus Aja. Sampah Yang Lu Tinggalin Kenapa gak Lu Foto. Gw Sumpahin Lu Yang Sering Ninggalin Sampah. Hidupmu Bau Seperti Sampah. Hidupmu Busuk Seperti Sampah. Skalian Jadi Sampah Masyarakat aj sana. Lu Lebih Buruk Dari Sampah. Sampah Bisa Dimanfaatin. Bisa Di Daur Ulang. Lu kaga. Baj***an Lu. Sampe Kalau Gw Sama Rombongan Selesai Bersihkan Tu Gunung Dan gw Liat Lu Ninggalin Sampah, Gw Masukin Tu sampah Ke dalam Mulut Lu. Biar tau Rasa Lu. Jangan Sombong dan Bangga Sebagai Anak Gunung, Sampah Aj Lu Tinggalin Untuk Pendaki lain. S**an Lu. Awas Ya. Malu-maluin “jelas salah satu pendaki senior umur 45 tahun, yang sangat jengkel melihat tingkah laku pendaki sekarang. Nada emosi, Marah, meledeak ketika liat sampah ada di gunung.

1

3

2

1000 Pendaki Siap Bersih-Bersih Rinjani – Permasalahan sampah milik para pendaki yang berserak di sepanjang jalur pendakian Gunung Rinjani, kini menjadi perhatian berbagai kalangan. Tidak terkecuali Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) NTB, yang siap mengerahkan 1.000 pendaki untuk aksi clean up, atau membersihkan sampah-sampah yang ada di Gunung Rinjani.

“Kita lakukan saat ini tentu tidak memungkinkan, karena kondisi Gunung Rinjani sendiri masih berstatus waspada, dan aktifitas pendakian dilarang. Namun begitu BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofosoka) menetapkan statusnya normal, maka sehari setelah itu kami (Disbudpar NTB) akan mengerahkan 1.000 pendaki untuk melaksanakan clean up Gunung Rinjani,” kata Kepala Dibsbudpar NTB, HL Moh. Faozal, ketika menggelar Sosialisasi Geopark Lombok di Hotel & Restaurant Nusantara, Sembalun, Selasa (11/10).

Ke 1.000 pendaki itu lanjut Faozal, masing-masing 300 pendaki berasal dari Korem 162/WB (TNI-AD), 100 dari anggota TNI-AU, 300 dari personel Brimob Polda NTB, 200 dari Komunitas Pencinta Alam, dan 100 dari Sat Pol PP Lombok Timur. “Jauh hari sebelum ada aktifitas letusan anak Gunung Rinjani, kami telah memiliki rencana clean up ini, namun tertunda karena ada erupsi,” bebernya.

Rencana pendakian clean up juga akan terbagi dua, sebagian (500 pendaki) akan melalui jalur pintu pendakian Sembalun (Lombok Timur), dan sebagian lagi melalui pintu pendakian Senaru (Lombok Utara).

“Titik sasaran clean up juga telah ditetapkan, selain sepanjang jalur pendakian yang akan dilalui. Maka lokasi yang banyak terdapat tumpukan sampah, seperti di Pelawangan Senaru dan Pelawangan Sembalun akan dijadikan area 1. Berikutnya kawasan Danau Segara Anak menjadi area 2 yang akan dibersihkan sampah-sampahnya,” jelas Faozal.

Persoalan sampah Gunung Rinjani menjadi yang pertama dibahas dalam sosialisasi yang dihadiri oleh para pengusaha wisata seperti Tour Operator (TO), Guide dan Porter Gunung Rinjani. Selain itu, hadir juga Camat Sembalun, Usman, Kapolsek Sembalun, AKP Jamaludin, Sekcam Sembalun, Rusman, Gustomi mewakili Kepala BTNGR, Kepala BTNGR Masbagik, Zaenudin, dan lainnya.

“Berikutnya kedua yang perlu diketahui, Sabtu malam lalu (8/10), saya mewakili Gubernur NTB, menerima penghargaan kompetisi wisata halal nasional yang diserahkan Menteri Pariwisata di Jakarta, dimana Sembalun terpilih sebagai terbaik secara nasional untuk kategori destinasi wisata ramah muslim untuk berbulan madu,” jelas Faozal, yang mendapat aplaus dari peserta sosialisasi.

Ketiga lanjut Kadisbudpar NTB, minggu kemarin (26/9) bersama Gubernur NTB dan Pengurus Geopark Nasional Gunung Rinjani berada di Inggris, untuk menghadiri konferensi geopark dunia, dimana Gunung Rinjani juga menjadi salah satu nominator untuk ditetapkan sebagai Unesco Global Geopark. “Artinya apa? Kalau persoalan sampah di Gunung Rinjani saja kita gagal mengatasi, maka gagal pula Gunung Rinjani menyandang status sebagai geopark dunia,” ujarnya.

“Kemudian keempat atau terakhir, salah satu solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan sampah ini, Disbudpar NTB memiliki rencana untuk memberlakukan deposit sampah bagi para pendaki Gunung Rinjani. Maksudnya kita hitung sampah bawaan pendaki, kemudian dikonversi dengan uang sebagai jaminan atau deposit. Dimana jaminan itu bisa diambil kembali oleh pendaki, ketika sampah yang didata petugas juga ikut dibawa turun,” jelas Faozal.

Gustomi, mewakili Kepala Balai TNGR menyatakan persetujuannya dengan ide deposit sampah yang hendak dilaksanakan Kepala Disbudpar NTB, terhitung mulai awal tahun 2017 mendatang tersebut. “Asalkan itu merupakan solusi terbaik, tentu Balai TNGR sebagai pengelola kawasan Gunung Rinjani setuju-setuju saja. Terpenting, agar masalah deposit sampah itu tidak menjadi permasalahan dibelakang hari, pengelolanya agar lembaga independen diluar pemerintah. Karena kalau pemerintah yang memegang, baik itu TNGR maupun Disbudpar NTB, tentu saja tidak boleh dan menyalahi aturan,” sarannya.

Sementara Camat Sembalun, Usman, dalam pemaparannya menyampaikan bahwa persoalan sampah tak hanya terjadi di kawasan Gunung Rinjani saja. Tetapi di daerah Kecamatan Sembalun, permasalahan sampah juga menjadi PR besar yang harus diselesaikan.

“Tentu saja tidak mungkin kami membawa sampah dari Sembalun menunju ke TPA Ijo Balit milik Pemkab Lotim. Selain jaraknya yang jauh, akses jalan perbukitan dengan tanjakan ekstrim juga sulit ditempuh kendaraan truk sampah,” bebernya seraya berharap, ada yang mau membantu membangunkan TPA di kawasan Kecamatan Sembalun sendiri.

Sedangkan Kapolsek Sembalun, AKP Jamaludin, dalam penyampaiannya menyatakan bahwa kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) Sembalun saat inirelatif masih aman dibandingkan dengan kecamatan-kecamatan lainnya di Lotim.

“Terkait keberadaan 10 personel Brimob Polda NTB yang kini ada di pintu pendakian Sembalun, semata-mata adalah untuk menjaga agar selama Gunung Rinjani ditetapkan berstatus waspada, tidak ada aktifitas pendakian. Selain itu, mereka itu ada di sini juga atas permintaan pihak TNGR kepada Kapolda NTB. Mudah-mudahan aktifitas Gunung Rinjani mereda, dan statusnya bisa normal, sehingga aktifitas pendakian juga berjalan normal kembali,” harap Jamaludin.

sumber : Radar Lombok