Misteri Gunung Dieng

Misteri Gunung Dieng

Misteri Gunung Dieng – Gunung Dieng atau dataran tinggi Dieng merupakan kawasan vulkanik aktif yang berada di Jawa Tengah, berada di wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Letak dataran ini berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Dieng memiliki Ketinggian rata-rata adalah sekitar 2.000 m di atas permukaan laut dan menempati urutan ke-2 dalam jajaran dataran tertinggi di dunia, setelah Nepal yang menempati urutan pertama

Dataran Dieng di kenal sebabagai daratan yang memiliki keindahan alam yang sangat indah dan menakjubkan. Dengan begitu, dataran ini menjadi tempat favorit dan di gemari oleh para wisatawan lokal ataupun asing. Namun, di balik keindahannya, dataran Dieng juga menyimpan beberapa misteri menakautkkan. Berikut ini misteri gunung/dataran Dieng.

Asal Muasal Penamaan Gunung Dieng

Dalam bahasa Kawi, Dieng sendiri merupakan gabungan dari dua kata, yaitu ‘Di’ yang memiliki arti gunung dan ‘Hyang’ yang memiliki arti dewa. Bila digabungkan secara bahasa, maka Dieng memiliki arti ‘gunung tempat para dewa’. Namun bila ditilik dari bahasa Sunda, maka Dieng diartikan sebagai tanah para dewa.

Sejarah Gunung Dieng di Masa Lampau

Meski bukti lengkap, baik tertulis atau peninggalan yang dapat menyingkap semua misteri gunung Dieng belum dapat ditemukan. Namun, setidaknya kita bisa berimajinasi tentang masa lampau, tentang peranan penting yang dipegang Dieng dalam perkembangan sejarah negara Indonesia.

Banyak di kalangan para arkeolog dan ahli sejarah berpendapat bahwa dataran tinggi Dieng sudah dijelajahi manusia sejak 2.000 tahun yang lalu, bahkan sebelum masehi. Pendapat ini disangkut-pautkan dengan aktifitas migrasi besar-besaran orang India (suku Keling) ke tanah Jawa. Aktifitas migrasi tersebut pun merupakan simbol sebuah mitos yang mengisahkan pemindahan istana para dewa, dari Jambudwipa (Himalaya) ke dataran Dieng.

Misteri Hilangnya Desa Legetang, Sebuah Dusun di Lereng Gunung Dieng

Dalam buku laporannya yang berjudul Evaluation of Initial Investigation Dieng Geothermal Area, Central Java. Pada tahun 1971, USGS menuliskan bahwa pada tahun 1955, gunung Dieng mengalami longsor yang mengakibatkan hilangnya satu desa, tertimbun tanah. Dalam website-nya (diengindonesia.com), tercatat bahwa desa Legeteng benar-benar terkubur, 351 warga desa tersebut, termasuk 19 penduduk desa tetangga meninggal saat longsor itu terjadi.

Menurut sebuah sumber, desa Legetang berada di lereng gunung Dieng, hanya berjarak 3 km dari kawah Timbang. Lagi pula, tahun itu 1955, segala peralatan masih terbatas, jadi sangat sulit untuk mengevakuasi penduduk yang terkubur. Dan pemerintah lokal saat itu membiarkan desa itu terkubur. Ujar Alif

Menurut sebuah mitos yang menyebar dari mulut ke mulut. Konon, dahulu, desa tersebut sangat subur. Namun, dikarenakan penduduknya tidak mensukuri dan tidak menjalankan kehidupan dengan perbuatan baik, maka desa tersebut di ganjar dengan kemarahan alam.

Saat ini, bekas lokasi desa tersebut merupakan lahan pertanian kentang milik penduduk sekitar. Banyak petani yang mengaku pernah menemukan puing rumah dan beberapa pecahan perabotan rumah tangga.

Gunung Dieng, Memukau, Sekaligus Mematikan

Indah, namun mematikan atau berbahaya, namun tetap indah. Terserah kamu melihat Dieng dengan cara pandang seperti apa. Jelasnya, gunung Dieng adalah dataran tinggi yang menyimpan keindahan dan bahaya.

Setidaknya, dataran tinggi Dieng memiliki 8 kawah aktif yang beberapa di antara kawah-kawah tersebut berpotensi mengeluarkan gas beracun, uap air dengan suhu panas, letusan lumpur panas, mengakibatkan lonsor, gempa bumi dan menyemburkan berbagai material vulkanik lainnya.

Situasi berbahaya ini digambarkan oleh tragedi letusan gas di kawah Sinila pada tahun 1979. Saat itu, kawah Sinila mengeluarkan gas beracun yang mampu menewaskan orang-orang yang menghirupnya dan membenuh setiap tanaman yang dilewatinya.

Inilah 8 kawah yang berada di dataran gunung Dieng

– Candradimuka
– Sibanteng
– Siglagah
– Sikendang (berpotensi gas beracun)
– Sikidang
– Sileri
– Sinila (berpotensi gas beracun)
– Timbang (berpotensi gas beracun)

Misteri Keberadaan Lima Candi Pandawa di Gunung Dieng

Pada abad ke-8, kerajaan Kalingga merupakan penguasa di tanah Jawa. Menurut para ahli arkeologi, pada tahun 732 M, kerajaan tersebut membangun beberapa candi yang difungsikan sebagai tempat pemakaman jenazah para raja dan ksatria, termasuk tokoh-tokoh yang masuk ke dalam sebutan Pandawa Lima.

Pandawa Lima sendiri adalah sebutan untuk 5 ksatria yang hidup di zaman Mahabrata, mereka merupakan putera dari raja Pandu Dewanata, dikenal memiliki jiwa ksatria dan berani. 5 ksatria tersebut di antaranya yaitu.

– Puntadewa
– Werkudara (Bimo)
– Arjuna
– Nakula
– Sadewa